Rabu, 22 September 2010

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Si Atap Rumah

Seperti biasa siang itu panas matahari begitu terik menyengat. Anginpun yang biasa ramah menyapa serasa enggan menghembus untuk sejenak menghembuskan kesejukan bagi bumi yang kian panas ini. Namun nampak sang mendung sudah siap menyabut dari belahan bumi yang lain. Bagaikan pasukan gajah yang perlahan namun pasti bergerak menyerbu musuhnya.
"Ayo mas guru pulang, sudah agak sepi jalannya",kata pak budi. "Njih Pak, bareng saja ya", jawabku sambil merapikan buku yang berserak di meja. Sejurus kemudian kamipun meninggalkan sekolah. Sebenarnya jalan pulang kerumah kami berbeda. Pak budi kebarat dan saya ketimur, hanya bareng sampai depan pintu gerbang setelah mengambil sepeda buntut kami.
Tak lama berselang laju roda sepedaku kembali berputar menyusuri jalanan yang nampak lengang walaupun hari masih terang. Beberapa bukit sudah kulalui dan tikungan-tikungan tajam sudah terlewati. Ada beberapa orang yang sempat berpapasan sebelum kembali berjalan sendiri.
Mendung hitam yang sudah siap menyambut dari bagian bumi yang lain, sudah ada didepan. Sesaat aku berfikir begitu cepatnya geraknya sehingga sudah ada di depan dan siap menyambut ku. Panas terik yang terasa menyengat sebelumnya sesaat terasa hilang,berganti hembusan angin dan rintik hujan menyambut. Tampak jelas beberapa orang di sawah-sawh itu pulang dengan berbasah kuyup.
Motor ini kuhentikan sejenak untuk berganti kostum batman. Kostum batman adalah sebutan untuk jas hujan hitam terusan yang bagian belakangnya berkibar ketika motor berjalan. Nampak seratus meter di depan hujan begitu deras setelah panas yang menyengat.
Berfikir sejank kuhentikan lajuku untuk berteduh. Gubuk kecil di pinggir jalan itu enjadi pilihan untuk sejenak berteduh menghela nafas setalah panasnya matahari berganti dinginya hujan serta hembusan angin yang membuat badan meriang. Atap ruamh tua di depan gubuk kecilku menjadi sasaran pandanganku, mengalihkan konsentrasi untuk menikmati derai hujan yang terus jatuh. Rumah itu kelihatan tua dan sangat sederhana,namun atapnya nampak kuat, kokoh dan tentu saja hitam warnanya. Namun mampu melindungi isi rumah itu, ketika panas atap itu menjadi pelindung dari teriknya matahari dan ketika hujan badai atap itu menjadi pelindung dari dinginnya udara yang menusuk tulang. Wow hebat pikirku, walaupun letaknya diatas atap itu tak terus sombong akan posisnya.
Khayalanku terus bergulir akankah ada pemimpin bangsa ini yang dapat bersikap seperti si atap ya??? diatas tidak sombong, menjadi pelindung pertama akan panas dan dingin serta melindungi warga negaranya...Semoga

Jumat, 17 September 2010

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Roda

Dua kali sudah kuganti ban belakang sepeda motor buntut ku. Perjalanan panjang dan melelahkan membuah karet hitam itu terkelupas dan aus.

Dua kali sudah kuganti ban belakang sepeda motorku. Perjalanan panjang dan melelahkan membuah karet hitam itu terkelupas dan aus. Demi keselamatan dan keamanan tidak ada cara lain selain dengan mengganti dengan roda yang baru. Guratan batik di ban itu telah hilang.

Namun sejenak aku berfikir ketika ban itu diganti dan terbayang olehku jika ban itu bisa bercerita dia akan menceritakan kisah-kisah perjalanannya. Jalan panjang telah dilalui, dengan lancar. Setidaknya hanya sekali terhenti ketika sebuah paku tajam menancap untuk sesaat menghentikan perjalanan. Cerita-ceritanya tak hanya terhenti disitu, dia akan bercerita kemana saja di pernah pergi, untuk apa di pergi, dengan siapa saja dia pergi, dan apa hasil dari perjalananya itu, dan lain sebagainya. Sekilas itulah nampaknya hidup demikain cepat berlalu, dari jalan ke jalan roda itu berputar untuk membuat sebuah cerita dari hari ke hari..yang akhirnya roda itu harus terganti, namun sang roda sudah mencatatkan sejarah bagi tipa langkah yang sudah ditempuh untuk memberi manfaat bagi sesama..

Senin, 14 Juni 2010

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Artikel gede prama

CINTA MEMBUAT KITA BERSAYAP
Posted by Gede Prama on 2005-02-15

Entah dari mana datangnya kekuatan, setelah belajar jauh ke negeri orang bertahun-tahun, membaca ribuan buku, majalah, koran, mengumpulkan pengetahuan lewat internet, dicerahkan oleh pergaulan yang demikian luas, diperkaya oleh film yang sempat saya tonton, namun bolak-balik saya didamparkan pada puncak ide yang bernama cinta. Mirip dengan guru Aikido yang bernama Morihei Ueshiba, yang menyebut hanya ada satu puncak yaitu
cinta, perjalanan ide saya juga demikian. Dari bacaan, pergaulan, maupun tontotan, semuanya berujung pada lorong yang bernama cinta.

Demikian juga ketika saya bersama anak-anak menonton film The Theory of Conspiracy di HBO suatu malam pertangahan Maret 2000. Film inspiratif yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts ini, memang dilatarbelakangi oleh dunia intelejen yang penuh teka-teki, menantang dan kadang kejam. Mel Gibson dan Julia Roberts memang bermain mengagumkan. Namun, yang lebih mengagumkan adalah cerita film ini. Untuk tujuan kekuasaan yang penuh kekejaman, kerakusan dan keserakahan, Mel Gibson memorinya diacak-acak dan dihancurkan. Kemudian, diformat ulang agar ia menjadi seorang pembunuh yang berdarah
dingin. Yang diharapkan bisa membunuh seorang hakim yang membongkar kasus lama.

Akan tetapi, begitu Mel Gibson siap membunuh sang hakim, ia melihat cinta seorang hakim terhadap puterinya (Julia Roberts) yang menawan.Entah cinta sang hakim pada puterinya, atau cintaseorang pria kepada seorang wanita, yang jelas seluruh energi cinta ini menghentikan energi membunuh Mel Gibson yang penuh
dengan format penguasa.

Merasa takut dan tidak puas dengan hasil format terhadap Mel Gibson, ia pun dikejar dan disiksa. Bahkan sampai mengerahkan seluruh komponen aparat keamanan. Sekali lagi, ia selamat berkat sayap yang bernama cinta. Di akhir cerita, secara amat romantis Mel Gibson bertutur apik : love gives us wing.

Kalimat apik terakhir ini mengingatkan saya pada sejumlah pengalaman berat. Dalam presentasi di depan petinggi-petinggi Citibank Indonesia dari country manager sampai dengan semua vice president saya bertemu dengan banyak sekali orang pintar dengan jam terbang yang mengagumkan. Demikian juga ketika diajak keliling Indonesia oleh Tupper Ware. Saya bertemu dengan
banyak manusia yang amat beragam. Hal yang sama juga terjadi, ketika melakoni diri menjadi konsultan yang harus berhadapan dengan pengusaha-pengusaha sukses yang kaya raya. Ada yang sombong, merendahkan, menghina sampai dengan kagum penuh pujian.

Akan tetapi, dengan modal sayap yang bernama cinta, semua itu lewat tanpa halangan yang menakutkan. Seorang peserta lokakarya yang amat sarkastis di awal, di akhir malah memeluk saya sambil memberikan hadiah sepasang sepatu mahal. Kerap saya ragu dan bingung, tanpa usaha yang terlalu keras,
bagaimana orang yang demikian bermusuhan awalnya menjadi demikian bersahabat. Dalam politik perkantoran juga sama. Kepala saya pernah diinjak dan dikencingin orang lain. Bahkan ada yang melakukannya di depan umum. Entah dari mana datangnya kekuatan, orang-orang seperti ini belakangan tidak sedikit yang menaruh hormat yang tinggi.

Dan setelah mendengar pesan Mel Gibson bahwa love gives us wing, saya baru saja sadar. Bahwa cinta bisa membuat kita bersayap. Untuk kemudian, terbang tinggi-tinggi dalam kehidupan. Tidak hanya tinggi dalam prestasi materi, tetapi juga tinggi dalam prestasi spiritual. Lebih dari itu, sebagaimana burung yang
bersayap, tubuh dan jiwa ini juga menikmati kebebasan yang demikian mengagumkan. Imajinasi, inovasi, inspirasi datang demikian mudahnya dalam kehidupan yang bersayapkan cinta.

Coba perhatikan lirik lagu Boyzone yang berjudul Every Day I Love You, It's a touch when I feel bad, It's a smile when I get mad. Cinta memang bisa demikian memabukkan kalau tidak dibingkai dengan kedewasaan dan kearifan. Namun begitu ia berada dalam bingkai kedewasaan dan kearifan, ia berfungsi persis seperti sayap besar dan tangguh. Dan siap membawa kita kemana saja kita pergi dalam kehidupan.

Bercermin dari filmnya Mel Gibson, pengalaman pribadi saya, maupun lagunya Boyzone, akan banyak gunanya kalau kita membanjiri diri kita dengan cinta. Dan ini sebenarnya tidak sulit. Energi cinta tersedia demikian melimpah di mana-mana. Istri, suami, anak, orang tua, tetangga, alam semesta, Tuhan adalah
sumber dan sekaligus tempat penyaluran cinta. Kita bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja baik dengan biaya mahal maupun murah.

Saya menyisakan sebagian kecil makanan di pinggir piring setiap kali makan, meletakkan segenggam nasi di pinggir taman rumah agar dimakan oleh burung-burung gereja yang datang setiap pagi, meletakkan daun talas di kolam ikan agar ikan makan dengan lahap, membagi sebagian kecil rejeki ke orang-orang bawah yang memerlukan, memberi semampu mungkin ke anak, isteri dan orang
tua. Anda saya yakin punya cara yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan saya. Mencintai juga lebih hebat dibandingkan dengan saya. Namun, jangan pernah lupa, cinta membuat kita bersayap. Dan kemudian membuat tubuh dan jiwa ini terbang demikian enteng dan ringan. Seperti Mel Gibson yang mengalahkan format teknologi yang demikian mengagumkan namun kejam.